Hidup Bakti Yes, Awam OK!

4-Logo Kecil

4-Logo KecilMenjadi kudus bukanlah pertama-tama soal berapa banyak kita terjun dalam kegiatan-kegiatan gerejani, berapa banyak karya sosial yang kita lakukan, atau berapa banyak doa dan devosi yang kita jalankan. Semua itu memang perlu, tetapi bukan itu yang terutama, bukan itu yang menjadi intinya. Intinya ialah hati kita berubah menjadi hati yang penuh kasih. Menjadi kudus tidak lain adalah menghayati dengan segenap hati perintah Allah.

Karena itu, semua orang katolik, apapun status dan kedudukannya, dipanggil kepada kepenuhan hidup kristiani dan kepada kepenuhan cinta kasih. Melalui kekudusan ini, suatu cara hidup yang lebih insani telah dipromosikan bahkan dalam kehidupan masyarakat di dunia ini. Agar orang-orang beriman dapat mencapai kekudusan ini, mereka mesti memakai kekuatannya sesuai dengan yang telah diterimanya, sebagai suatu pemberian dari Kristus.
Kita mesti benar-benar mengejar kekudusan dalam hidup ini. Kita sudah terlalu banyak hidup bermain-main dengan dosa. Kita tahu bahwa hidup kita terlalu berkompromi dengan hal-hal yang tidak kudus. Kita dorong Tuhan ke samping apabila Dia menghalangi kita terhadap hal yang kita sukai. Jadi sekarang, kalau kita mau mengejar kekudusan, hidup kita harus berubah secara drastis! Kalau kita mengerti kasih karunia Allah dan kekudusan Allah, maka kita akan membersihkan segala kotoran dari kehidupan kita. Sudah waktunya bagi kita untuk menginventarisasi hidup kita dan adakan perubahan! Adakan perubahan dalam hidup kita dalam menggunakan waktu, menggunakan uang, energi, cara berpikir, cara berkata-kata dan tindakan.
Panggilan kekudusan ini juga menjadi hal penting yang diangkat dalam Temu OMK SIJAMBU, 23 hingga 26 Juni lalu. Menjadi kudus sebenarnya tidak hanya dengan menjadi seorang pastor atau suster. Panggilan hidup kita secara pribadi sebenarnya membawa dan menghantar kita sampai pada kekudusan itu sendiri. Melalui kehadiran biarawan-biarawati dalam Temu OMK SIJAMBU ini, orang muda diajak untuk menyadari panggilan hidup sebagai murid Kristus. Di tengah-tengah acara Temu OMK SIJAMBU, para biarawan-biarawati yang hadir mensharingkan hidup dan panggilan mereka kepada orang-orang muda yang hadir.
“Dalam Gereja Katolik ada dua kelompok besar, yaitu klerus dan awam. Kedua kelompok ini baik adanya. Kedua kelompok ini sebenarnya merupakan panggilan hidup yang sama luhurnya. Mereka yang termasuk dalam klerus, sebenarnya sama saja dengan awam. Hanya, kuasa imamatlah yang membedakan mereka dengan awam. Mereka dipanggil secara khusus oleh Allah untuk menjadi perantara awam untuk sampai pada kekudusan,” kata Rm Andreas Siswinarko, SCJ, saat sharing panggilan dalam Temu OMK SIJAMBU.
Menjalani hidup bakti dan berkeluarga sama baiknya. Kedua jalan hidup ini sama-sama bertujuan mengantar kita pada keselamatan. Dari sharing panggilan antarbiarawan-biarawati menunjukkan bahwa jalan hidup panggilan mereka tidak selamanya mulus seperti yang dibayangkan banyak orang. Meski tidak mulus, tetapi mereka yang membaktikan diri secara khusus kepada Tuhan tetap menjalani panggilan tersebut dengan menjadikan tantangan sebagai kekuatan dalam mencapai kekudusan.
Sebenarnya, tanggapan kita terhadap panggilan kekudusan akan menentukan kualitas hubungan kita dengan Allah. Tentu hal ini perlu kita perjuangkan dengan segala kesungguhan hati masing-masing, sehingga hubungan itu berkualitas dan tidak asal-asalan. Sering orang ingin menyerah saja ketimbang bersusah payah untuk mewujudkannya. Padahal dengan mewujudkan panggilan untuk hidup dalam kekudusan itu akan menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya. Mudah-mudahan kita setia memikul beban kesediaan dalam mewujudkan panggilan kekudusan itu di tengah masyarakat seumur hidup kita.**
Teresia Ovilda

Related posts