Dari 5 Keluarga, Sampai Punya Gereja Sendiri

Ratusan umat memadati halaman depan Gereja Stasi Santo Yoseph, sementara tarian dan musik bernuansa Batak dipentaskan. Dengan khidmad, mereka menyambut kehadiran Mgr. Aloysius Sudarso SCJ beserta rombongan di stasi mereka, yang terletak di Desa Sri Agung, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi. Gereja Stasi Santo Yoseph merupakan salah satu stasi Paroki Santa Teresia. Jarak stasi dari paroki sekitar 150 kilometer.

Awalnya ada lima keluarga Katolik yang bermukim di Stasi Santo Yoseph. Mereka membentuk suatu paguyuban untuk beribadah dan berdoa dari rumah ke rumah. Sayangnya, kegiatan ini tidak berlangsung lama. Pasalnya ada masyarakat sekitar yang tidak setuju dengan aktivitas peribadatan mereka.

Umat Stasi Santo Yoseph memutuskan bergabung dengan umat Stasi St. Lidwina, Simpang Rambutan, yang berjarak 15 KM. Seiring berjalannya waktu, jumlah umat Katolik di Desa Sri Agung semakin banyak, karena transmigran Suku Batak.

Pertambahan kuantitas ini membuat umat mulai memikirkan gedung gereja sendiri. Tahun 2006, mereka membeli sebidang tanah berukuran 50 x 50 meter, bersama bangunan kayu yang sementara waktu digunakan untuk beribadat. Mereka mengambil nama St. Yoseph, sebagai pelindung stasi ini.

Sekitar dua tahun terakhir, umat bersama imam yang berkarya di Paroki Santa Teresia memutuskan untuk mendirikan bangunan gereja permanen. Usaha ini memuncak pada Sabtu (14/12) lalu, saat Uskup Agung Sudarso SCJ memberkati Gereja Stasi Santo Yoseph.

“Kita bersyukur atas pemberkatan gereja ini. Ini tempat suci. Tempat Tuhan berjumpa dengan kita melalui Sabda, Ekaristi, sakramen-sakramen,” kata Mgr. Sudarso, mengawali homilinya siang itu.

Melihat kuantitas umat yang ratusan lebih, Mgr. Sudarso mengungkapkan kebahagiaannya. Dia senang akan perkembangan pesat umat Katolik di Provinsi Jambi. Dia juga berharap semoga perkembangan ini juga menyemangati umat.

“Di sini (gereja ini) Tuhan akan hadir di tengah-tengah kita. Semoga Gereja menunjukkan Tuhan yang hadir itu, sehingga setiap kita melihat gereja, kita diingatkan, bahwa Tuhan menyertai umatNya,” harap Mgr Sudarso.

Kehadiran Allah di tengah umatNya selanjutnya harus diwartakan. Pewartaan ini menjadi kesaksian umat Katolik yang harus mau berdialog di tengah masyarakat.

“Kita diminta Bapa Suci (Paus Fransiskus) untuk menampilkan Wajah Kristus yang peduli pada mereka yang berbeda dan tersingkir. Kita diharapkan ikut serta membawa damai dan membangun negara. Kita diharapkan berani untuk di garis depan ikut serta mewartakan kesatuan dan persatuan bangsa,” pungkas Uskup Sudarso.

Selain pemberkatan gereja stasi, Mgr Sudarso juga menerimakan Sakramen Krisma kepada sekitar 93 orang krismawan-krismawati.

Diunggah: komsos | Tanggal: 22-01-2020 10:33

Tags: keuskupan

Kalender Liturgi
Selasa, 18 Februari 2020


Jan - Feb - Mar - Apr - Mei - Jun - Jul - Agu - Sep - Okt - Nov - Des

Sumber: https://www.imankatolik.or.id/