Profil Seminari St. Paulus Palembang

Sejarah 

Seminari Menengah Santo Paulus Palembang adalah tempat pendidikan awal bagi para calon imam dan atau biarawan Katolik milik Keuskupan Agung Palembang yang pengelolaannya diserahkan kepada Kongregasi Imam-imam Hati Kudus Yesus (SCJ). Seminari ini terletak di Komplek Pendidikan Keuskupan Agung Palembang, Jln. Bangau No. 60 Palembang. Keberadaan Seminari Menengah Santo Paulus Palembang seperti sekarang ini, didahului dengan dinamika sejarah yang panjang dan tidak mudah. Berikut ini adalah sejarah singkat berdirinya Seminari Menengah Santo Paulus Palembang.

Pada tanggal 24 April 1947 didirikanlah Seminari Menengah Santo Paulus Palembang di Pastoran Hati Kudus Jl. Talang Jawa 4, Palembang. Nama “Santo Paulus” dipilih sebagai pelindung seminari ini dengan tujuan agar seluruh komunitas seminari disemangati olehnya. Komunitas seminari kiranya dapat belajar banyak dari pertobatan, visi, misi, jiwa, pengabdian, semangat, keuletan, pengorbanan dan penderitaan Santo Paulus dalam mewartakan Injil dan menjadi pelita dunia. Tempat tersebut sekarang ini dikenal dengan nama Jalan Kol. Atmo.  Seminari itu berada di depan halaman SD Xaverius 2. Empat siswa pertama seminari adalah: Petrus Sabirin Darmo Seputro, Marcellinus Suratmo, Sunardi, dan Ramelan.

Pada tahun yang sama, di Pringsewu – Lampung, dirintis pula sebuah seminari menengah. Adapun perintisnya adalah Romo JOH. Padmo Seputro, Pr, atas gagasan Romo Wahyo Sudibyo, OFM yang waktu itu tinggal di Paroki Metro. Seminari itu diresmikan pada tanggal 2 Februari 1948 dengan nama Seminari Santo Yosef. Siswa-siswa pertama Seminari Santo Yosef  Pringsewu antara lain: AM.Badroen Effendhi, FX.Prandjono, St. Sudadi, Petrus Abdullah Hassan, Dionisius Urip, Lukas Wakidi, Petrus Suhadi (P. Abdi Putroraharjo, SCJ), dan Andreas Suwijoto (Mgr. DR. A. Henri Susanto, SCJ). Staf pendidiknya adalah  Romo Padmo Seputro, Pr, bersama tiga orang guru laki-laki dan dua orang suster Fransiskanes (yang saat ini dikenal sebagai FSGM).

Pada tahun 1949 meletus  agresi militer II. Tentara Belanda masuk kota Pringsewu. Demi keamanan, Seminari Santo Yosef dipindahkan ke Padang Bulan, di rumah Bapak Karyo (kel. Rm. L. Setyo Antoro, SCJ) salah seorang umat Katolik. Tak lama setelah itu, masih pada tahun yang sama, Seminari Santo Yosef digabungkan dengan Seminari Santo Paulus Palembang. Alasan utamanya adalah, dalam satu keuskupan sebaiknya hanya ada satu seminari.

Dalam perjalanan selanjutnya, Seminari Menengah Santo Paulus Palembang pernah pindah ke Lahat, yaitu dengan menempati  sebuah asrama militer ( KNIL ), yang  terletak di Jln. Gumai, di depan Rumah Sakit Umum Lahat. Pada Agustus 1951, Seminari Santo Paulus kembali ke Palembang, bukan ke tempat lama, yaitu Pastoran Hati Kudus Talang Jawa, melainkan ke komplek Frateran BHK, di samping Gereja Santo Yosef Palembang, dan tinggal di bagian belakang bangunan biara BHK. Tidak lama tinggal di komplek biara BHK, seminari kembali berpindah, kali ini ke komplek RS Charitas.

Pada tanggal 7 Mei 1951, Keuskupan Palembang membeli sebidang tanah di Jln. Bangau 60 Palembang. Di tanah yang berawa-rawa itu dibangun gedung SMA Xaverius I Palembang. Tak lama kemudian, Mgr. Mekkel Holt memutuskan untuk membangun gedung Seminari Menengah Santo Paulus, di tempat yang sama secara berdampingan. Pada tanggal 15 Mei 1953 gedung Seminari Menengah Santo Paulus diresmikan. Pada tahun 2017 ini, tepatnya 24 April yang lalu, Seminari Menengah Santo Paulus Palembang telah genap berusia 70 tahun.

 

Visi

      Seminari Menengah St. Paulus Palembang, bercita-cita agar seminaris berkembang secara seimbang dalam 4S (Sanctitas, Sanitas, Scientia, dan Sosialitas), sehingga menjadi pribadi yang dewasa secara manusiawi dan  kristiani dalam mengikuti panggilan Tuhan  ke arah imamat, atau hidup membiara.

  1. Sanctitas (Kesucian)
  2. Sanitas (Kesehatan)
  3. Scientia (Pengetahuan)
  4. Sosialitas (Sosial)

Misi

      Adapun misinya adalah:

  1. Mendidik dan  mendampingi  seminaris  agar berkembang secara seimbang dalam  sanctitas (kesucian), sanitas (kesehatan), scientia (pengetahuan), dan sosialitas (sosialitas); menuju kedewasaan pribadi secara manusiawi dan kristiani, dalam menanggapi panggilan Tuhan dan hidup sesuai dengan  panggilannya.

  2. Mendidik dan melatih seminaris agar berkembang menjadi dewasa dalam keutamaan-keutamaan kristiani, mengolah kehidupan afektif dan seksual, mengembangkan sosialitas dan keadilan, berdialog dengan umat beriman lain dan berpengetahuan sesuai dengan usianya.

  3. Membantu seminaris agar semakin peka akan kebutuhan Gereja dalam konteks Indonesia, secara khusus Gereja setempat dan mengarahkan seminaris, terutama untuk menjadi imam diosesan Keuskupan Agung Palembang, Keuskupan Tanjungkarang dan Kongregasi Imam-Imam Hati Kudus Yesus (SCJ).

  4. Menjadikan seminari sebagai tempat persemaian panggilan yang kondusif dan mandiri.

 

Diperbarui pada tanggal 09-12-2019 20:36

Kalender Liturgi
Senin, 16 Desember 2019


Jan - Feb - Mar - Apr - Mei - Jun - Jul - Agu - Sep - Okt - Nov - Des

Sumber: https://www.imankatolik.or.id/